<< September 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Tuesday, July 19, 2005
KACAMATA KUDA (PART 2)

Suatu malam gw ke warnet untuk chatting di yahoo messenger karena gw bingung mau ngapain. Di warnet, gw minta webcam dan microphone ke operator karena seru kalo chatting tapi bisa liat orangnya and denger suaranya. Anyway,  gw menulusuri room yang satu ke room yang lain. Iseng-iseng aku coba view webcam para chatter yang ada. Aturan main di dunia chatting adalah harus mengundang chatter yang lain untuk view cam kita sebelum kita meminta cam dia. Tumben malam ini banyak para chatter pada gak mau. Mungkin sedang cyber sex.

                                                           

Pada waktu gw sedang chat dengan teman lama di Malaysia, hp gw bunyi. Cimot.

 

“Iya, sayang.” Gw buka pembicaraan.

 

“Kimi lagi chatting, ya?” tanya Cimot

 

“Iya.” Jawab gw

 

“Oooo…iya aku lagi kerja nih…lagi download email dari client. Aku liat kamu lagi online. Bla…..bla….bla….. Ya udah, aku kerja lagi ya. Met chatting.”

 

“Met kerja, sayang.”

 

Karena gw sedang online di YM dan pake cam, otomatis dong gw invite dia. Dan sebelumnya gw kudu buka private chat box dia sebelum invite. Invitation gw gak direspon. Mungkin dia sibuk dan gak notice. Tapi hati gw tergelitik ketika lihat nick name or id yang muncul di box chat gw dengan cimot koq berbeda. Jelas-jelas gw buka private chat box dengan Cimot. Nick yang muncul adalah:

 

You invite Cam17_saling_gurl to see your cam

 

Ok…nevermind. Mungkin dia pake nick alternative or alias.

 

Gak selang lama, gw iseng-iseng klik salah satu chatter yang pake webcam dengan nick look4_BF. Klik. Gw buka private chat box dan invite dia. Gak ada respon juga. Tiba-tiba gw kaget setengah mati. Id atau nick yang keluar adalah:

 

You invite Cam17_saling_gurl to see your cam

 

Gw gak yakin dengan mata gw. Gw tutup private chat box dengan Cimot dan gw buka lagi sambil invite. Pesan yang muncul adalah:

 

You invite Cam17_saling_gurl to see your cam

 

Gw langsung kirim message ke Cimot:

 

Lagi cari Boy Friend baru nih? L

 

Dia balas: maksudnya?

 

Gak berapa lama HP gw bunyi lagi. Cimot.

 

“Aku gak ngerti maksud kamu. Aku lagi kerja dan gak chatting. Aku bla…bla….bla….”

 

“Aku tadi invite kamu untuk lihat webcam aku. Dan yang keluar adalah bla…bla….bla… Kebetulanaku juga invite chatter lain dengan nick look4_BF dan yang keluar adalah bla…bla….bla… Bisa jelasin gak?”

 

“Aku gak ngerti maksud kamu…aku lagi kerja dan tadi Riska bilang kamu online.”

 

“Riska? Sejak kapan aku online dengan Riska? Sejak kapan Riska tau id aku?”

 

Berkelit dan berkelit. Plintat plintut. Gw tahu Cimot BOHONG!!!!

 

Akhirnya gw putusin telpon baik-baik. Percuma berbicara. Karena gw bukan orang bego. Karena gw penasaran, gw telpon sahabat gw yang sangat paham dengan Yahoo Messenger. Dan penjelasan sahabat gw memperkuat keyakinan gw.

 

Gw akhirnya pulang dengan pikiran yang gak keruan. Selama ini gw teryakinkan bahwa dia layak untuk gw pertahankan. Selama ini gw selalu untuk menggunakan kacamata kuda gw meskipun beberapa sahabat meminta gw untuk melepas kacamata itu. Dan sekarang gw ragu dengan keyakinan gw. 

 

Haruskah gw lepas kacamata kuda ini?


Posted at 12:28 am by miko_soeganda
Comments (5)  

KACAMATA KUDA (PART 1)

Hubungan gw dengan Cimot sudah berjalan hampir satu tahun. Dalam sebuah hubungan apapun, tidak pernah ada yang selalu berjalan dengan mulus. Ada kalanya terjadi pergesekan dan benturan. Namun semua itu bisa dikomunikasikan dan diselesaikan dengan baik. Pada awal gw ketemu dan jadian dengan Cimot, banyak sekali benturan yang terjadi. Jadwal kerja yang sangat fleksibel dan padat, membuat kita sulit untuk bertemu. Pernah disiasati dengan dia datang ke kost gw sesudah meeting atau event yang harus Cimot ikuti atau gw nemenin dia pada saat ada event. Konsekuensinya adalah jadwal tidur gw mundur ke jam satu pagi karena dia datang ke kost jam sebelasan. Sekedar ngobrol sambil pelukan atau kalau sedang mood yang baik, kita bercinta.

 

Seiring waktu berjalan, Cimot mulai jarang mampir lagi ke tempat gw. Gw jarang diajak ke event-event yang dia kerjakan. Gw gak bisa main ke rumah dia lagi dengan berbagai macam alasan yang gw rasa bisa diterima akal sehat. Gw bersabar. Gw menunggu. Gw berharap situasi akan berubah menjadi seperti pada awal kita menjalin hubungan. Dan sejak awal menjalin hubungan, kita sepakat untuk menjalankan 3 hal mendasar: komunikasi, kejujuran, dan kepercayaan. Biarpun kita jarang bertemu, komunikasi selalu kita jaga. Entah gw yang telpon dia atau dia yang telpon gw. Kacamata kuda pun gw pakai dengan erat.

 

Lama kelamaan gw mulai terbiasa dengan kesendirian gw dengan status in relationship with someone. Seperti layaknya hubungan asmara orang dewasa, sex memegang peranan penting juga. Pada awalnya cukup baik dan ketika Cimot menjadi sangat sibuk dengan agenda meeting dan event-nya, rasanya keterlaluan kalau gw menuntut untuk make love setiap hasrat itu muncul. Gw akhirnya terbiasa kembali untuk hidup berselibat. Pada suatu saat gw harus pulang berkunjung ke rumah ortu. Malamnya gw nginap di rumah Cimot karena kebetulan gak ada siapa-siapa di sana. Ortu dan adiknya sedang pergi ke luar kota. Kebetulan pula, hasrat itu sedang muncul dengan hebatnya. Secara gw sudah puasa untuk sekian bulan. Pada saat gw akan mencium dia, dia menolak dengan alasan nafasku bau rokok. Gw terima alasan dia. Gw menyikat gigi dan lidah gw. Keintiman itu akhirnya terjadi. Tapi Cimot sepertinya setengah hati. Begini salah. Begitu salah. Sialnya, lehernya terkena gigi gw secara gak sengaja. Cimot membentak gw. Gw yang sejak awal merasa dia setengah hati untuk make love langsung meledak marah.

 

Pertengkaran ini berakhir dengan kesepakatan untuk open relationship, dalam artian gw boleh have sex (not make love) dengan yang lainnya. Dan gw gak boleh marah kalau Cimot pun have sex dengan orang lain sebagai konsekuensinya. Walaupun dia meyakinkan gw bahwa dia gak akan melakukan itu, gw nggak tau kudu ngomong apa. Ini sebuah kompromi yang sebenarnya menggiurkan bagi laki-laki. Mana ada kucing menolak daging (kecuali dia kucing vegetarian!). Tapi gw merasa sedih. Gw merasa jarak di antara kita mulai semakin lebar. Tapi karena gw tidak ingin kehilangan Cimot dan juga karena gw sudah memilih dia sebagai belahan jiwa gw, gw iyakan saja kompromi ini Orang mungkin menilai apa yang ditawarkan Cimot adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Dan orang juga akan menilai gw sebagai laki-laki egois karena menerima kompromi itu, bukannya menahan hasrat. TERSERAH.

 

Sesuai kesepakatan itu, hubungan antara gw dengan Cimot kembali berjalan seperti biasa. Cimot sibuk dengan setumpuk kegiatannya dan gw menyibukkan diri dengan pekerjaan gw. Tidak ada lagi keintiman, kecuali ciuman sekilas dan ringan. Pertemuan pun semakin jarang. Namun dari komunikasi yang ada, gw teryakinkan bahwa dia sayang dan cinta gw. Saling menguatkan dan memberikan nasihat. Segala hal yang tampaknya terjadi pada pasangan biasa yang tidak mengalami masalah berat.

 

Minggu kemaren, kesabaran gw mulai hilang ketika dia memutuskan untuk pergi ke undangan pernikahan salah seorang bintang film Arisan!. Padahal kita baru bertemu untuk 2 jam dengan diselingi pekerjaan dia dan obrolan dengan teman-temannya. Gw capek untuk berharap dan menunggu adanya perubahan. Gw gak mau mati tenggelam dalam kesepian gw. Malam itu kita bertengkar lagi. Cimot menangis di pangkuan gw, ketika dia mengakui bahwa dia merasa bersalah sudah menelantarkan gw. Dia rela untuk diputuskan karena dia tidak bisa memberikan apa yang terbaik buat gw. Dia juga bilang bahwa gw adalah rekor terlama-nya dalam menjalin hubungan. Dia sangat menghargai kesabaran gw. Cimot gak mau hubungan ini berakhir dengan saling menyakiti. Tapi dia pun tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tidak berani menjanjikan adanya perubahan. Tidak berani menjanjikan untuk memberikan waktu yang cukup buat gw. Cimot bahkan menyatakan, jika gw harus turun dari kereta yang sekarang dan pindah ke kereta lain yang lebih nyaman, dia harus berlapang dada untuk menerimanya.

 

Sekali lagi, karena gw memilih Cimot sebagai belahan jiwa gw maka gw harus fight untuk mempertahankannya. Gw kudu lebih menaikkan ambang kesabaran gw. Dengan segala yang Cimot ucapkan, gw kembali teryakinkan bahwa dia sangat berharga dan harus menjaganya.

 

Kembali lagi gw pasang kacamata kuda.


Posted at 12:13 am by miko_soeganda
Comments (4)  

Thursday, May 26, 2005
Monolog Seekor Lalat



Prolog

Tiba-tiba seekor lalat terbang dan masuk ke dalam cangkirku yang berisi kopi. Menggelepar sesaat dan akhirnya diam. Tak bergerak. Mungkin sudah berakhir kehidupan seekor lalat. 'Mbok!!!!! ke sini dong...kopiku kemasukan lalat nih, tolong buatin yang lain ya...' kataku 'Iya, den, Mbok buat yang baru ya.' Kata simbok, pembantuku itu.....dan aku melanjutkan membaca koran seperti tidak ada kejadian apa-apa.

******************************************************************
Nama aku Dul. Aku tidak tahu nama asliku, cukuplah kalian memanggil aku Dul saja seperti kebanyakan orang Indonesia yang ada. Biasa kan, kita sering dengan: 'Si Dul itu kurang ajar banget..tiba-tiba menyalip ke depan mobil aku, kena lampu merah deh...' atau 'hari itu ban mobnil aku kempes di jalan tol, untung ada Dul, kalau nggak, nggak tau deh mesti gimana.. Nama Dul sudah melekat dalam kehidupan kalian sehari-hari. Aku ? Aku adalah seekor lalat dari spesies Musca Domestica atau Lalat Rumah dari keluarga Diptera, yaitu serangga yang mempunyai dua sayap. Aku adalah satu dari 1.5 juta spesis lalat yang berterbangan di seluruh dunia. Aku berusia 8 hari dan pada usia hari aku sudah menjadi dewasa. Aku sudah menamatkan sekolah dasar dalam waktu 3 hari, sekolah menengah pertama dalam waktu 1.5 hari dan melanjutkan di SMA dalam waktu 1.5 hari.

Kemarin aku baru saja diwisuda dan mendapatkan gelar Sarjana Makanan dan Sampah dari Universitas Lalat. Tidak seperti Dul Somad yang mendapatkan ijazah dengan mudahnya di pinggir tong sampah. Tadi malam, waktu aku terbang ke sana kemari mencari sesuap makanan, aku mampir sebentar di sebuah lorong di belakang sebuah bangunan. Aku melihat seorang perempuan yang cantik. Modis dan seksi. Aku hinggap sebentar di atas bahunya sebab aku hendak mengamati kalau ada sisa-sisa makanan yang ada sekitar sekitar tanah yang dipijaknya tu. Sialnya, aku dihalau oleh kibasan tangannya sambil mulutnya melemparkan makian.

'Lalat sialan!' makinya.

Aku dihina sebegitu rupa seolah-olah aku adalah seekor binatang yang berbahaya. Aku bukan binatang, aku adalah serangga. Walau aku dituding sebagai pembawa penyakit dan virus yang berbahaya seperti temanku, Nyamuk, paling tidak aku lebih baik dibandingkan dia. Tak berapa lama aku melihat dia digandeng seorang lelaki dan masuk ke dalam kamar yang kecik di belakang bangunan. Ternyata......Sekotor-kotornya aku, kamu lebih kotor, lebih sial, lebih bangsat.

Aku meninggalkan daerah kotor itu sambil memaki-maki biarpun dalam hati. Aku terbang lagi dan melanjutkan pengembaraanku di atas bumi milik Tuhan ini. Aku hanya ingin mencari rezeki dari rezeki yang kamu buang dan kamu lemparkan ke dalam tong sampah. Hinakah aku? Rezeki yang Tuhan berikan, kamu sia-siakan dan kamu berikan padaku. Siapa yang lebih hina? Aku tak pernah sia-siakan sisa-sisa rezekimu. Kalau jumlahnya banyak, aku panggil teman-temanku. Kami berkenduri dan berpesta di situ. Satu hal lagi, setidaknya aku membersihkan tanganku lebih dulu sebelum menjamah makananmu. Tidak seperti kebanyakan dari kalian yang langsung makan tanpa membersihkan atau mencuci tangan.

Pada saat pagi menjelang, aku terbang lagi. Itu adalah pekerjaanku dan itulah kehidupaku. Aku singgah sebentar di sebuah tong sampah di belakang sebuah rumah. Indra peraba pada kaki-kakiku memberitahu sesuatu. Ada banyak makanan di situ. Ada yang masih sangat baik dan pantas untuk kalian makan. Tetapi ini sudah menjeadi rezeki aku. Sambil makan, aku melihat selembar koran. Aku membacanya dengan mata yang kabur karena aku mempunyai mata faset yang mampu memberitahuku adanya sebuah gerakan. Sekecil apapun gerakan itu. Oh ya, aku sudah pandai membaca waktu aku berusia aku satu hari, pada saat aku masil menimba ilmu di sekolah dasar negeri lalat. Isi beritanya membuatku muak. Berita tentang wakil rakyat yang selalu ribut dan berkelahi pada saat sidang, berita pemerkosaan, pembunuhan, kerusuhan dan lain sebagainya.

Selera makanku hilang. Di dalam bangsaku tidak pernah ada berita-berita seperti itu. Apa yang biasa aku dengar hanyalah berita kematian lalat yang ditampar dengan sadisnya oleh manusia, kematian lalat yang disembur dengan Baygon atau Raid, kematian lalat karena sakit tua, kematian lalat akibat terkena sengatan listrik pada jebakan ultra violet untuk serangga. Berita-berita yang memuakkan itu membuatku segera terbang meninggalkan tempat itu. Aku sudah kehilangan selera makan. Kalian memang membuatku muak. Sehina-hinanya bangsaku, bangsa kalian lebih hina.

Sambil terbang, banyak hal yang kupikirkan. Kenapa aku dituduh dengan bermacam-macam hal yang jelek? Aku tidak pernah berak di badan kalian tapi kenapa titik-titik hitam ciptaan Tuhan itu dikatakan sebagai tahi aku? Ironisnya, bila tahi aku berada di sudut bibir kalian, itu dikatakan sebagai pemanis? Kenapa aku dijadikan perumpamaan seperti lalat hijau mengerumuni bangkai? Padahal, tahi dan putaran kehidupanku pada bangkai menjadi petunjuk penting bagi para Pathologist untuk memperkirakan usia kematian kalian. Begitulah buruk dan hodohnya aku pada mata kalian. Kadang-kadang aku pun ingin menjadi seperti burung. Terbang tinggi menembus awan. Tapi aku tetap bersyukur dengan anugerah Tuhan. Dengan sayap-sayap ini aku belajar arti kehidupan kalian. Walau aku cuma mampu hidup selama 40 hari. Jka aku beruntung, umurku bisa lebih dari 40 hari dan paling lama aku hidup hingga 100 hari. Itu adalah nasibku yang mungkin kalian tidak pernah tahu. Aku hanya mampu berdoa agar aku mampu hidup sampai 100 hari dan aku dapat menghindari kawasan-kawasan berisiko tinggi. Tidak seperti kalian, yang menjemput ajal sendiri di atas jalan raya dengan memacu sepeda motor atau mobil seperti seorang pembalap. Sedihnya, aku masih dianggap hina dan bodoh.

Matahari semakin tinggi dan hawa menjadi semakin panas. Aku perlu mencari tempat yang nyaman untuk aku menenangkan pikiran. Bukan tempat yang terlalu dingin dan beku karena di tempat seperti itu aku bisa pingsan selama berpuluh-puluh hari. Tapi aku bisa cepat siuman jika aku dihangatkan walapun itu hanya hembusan nafas kalian. Aku melihat sebuah tempat yang berhawa sejuk, sebuah ruangan yang bagus. Aku masuk dengan menumpang pada seseorang yang membuka pintu. Aku terbang dengan gembira sebab tubuhku menjadi lebih nyaman terkena hembusan AC. Aku melihat sebuah komputer dan seseorang sedang melihatnya dengan penuh konsentrasi. Aku hinggap sebentar di atas kursinya. Dia tidak sadar bahwa aku ada dibelakangnya. Dia terlalu asyik. Aku mencoba membaca apa yang tertera pada layar monitor. 'Ah !, sebuah artikel dengan judul Life Is A Fairytale...sebuah tulisan tentang seekor lalat. Ada apa gerangan dia membaca cerita mengenai lalat? Tak ada pekerjaankah dia?  Apakah atasannya tahu atau tidak bahwa dia sedang berpura-pura bekerja? Apa dia tak sadar bahwa pemilik perusahaan membayar gajinya untuk bekerja dan bukannya membaca sebuah cerita tentang entah apa..' bisik hati kecilku. Dasar manusia. Aku terbang meninggalkan dia yang masih sibuk membaca cerita tentang seekor lalat. Mungkin dia ingin tahu ending cerita mengenai si lalat.

Sangat menarikkah cerita seekor lalat?. Entahlah........yang pasti aku masih dianggap kotor, menjijikan, dan bodoh.

*********************************************************************




Lalat itu mati di dalam segelas kopi pada usia 10 hari. Dia tidak sempat menatap terbitnya fajar yang ke 100. Mungkin itu sudah takdirnya. Kalau dia hidup hingga 100 hari, mungkin dia bisa menjadi presiden lalat. Dan dengan daya fikirnya yang tinggi, dia mungkin mampu mengumpulkan lalat-lalat seluruh dunia dan menyerang manusia.

Posted at 03:57 pm by miko_soeganda
Comments (2)  

Monday, March 28, 2005
Tamparan Sepotong Sayap Ayam

Beberapa hari yang lalu gw janjian dengan teman lama untuk ketemuan sepulang kerja. Berhubung meeting point yang paling gampang di-akses adalah Sarinah Thamrin, kita sepakat untuk ketemu di sana. Sepanjang perjalanan 500 meter, gw merutuki kenaikan gaji yang gw terima menyusul kenaikan BBM dan juga barang-barang lainnya yang ikutan latah. Gaji yang gw terima sebenarnya di bawah market untuk seseorang yang memiliki kaliber seperti gw. Gw mikir-mikir, kapan gw bisa ganti handphone gw yang udah mulai lemot dan sering error? Kapan gw bisa jalan-jalan ke Thailand or Hong Kong barengan temen-temen gw? Gw semakin bersungut-sungut jadinya.

Sesampainya di Sarinah, gw mutusin untuk makan duluan secara temen gw bilang dia stuck di Kebun Jeruk dan perut gw dah gak bisa kompromi. Gw mutusin untuk ke KFC. Pada saat gw antri, di depan gw ada dua bocah umur sembilan tahunan yang ikutan antri. Bukan anak-anak seperti kebanyakan orang. Pakaiannya kumal dan kaki telanjangnya dekil terkena debu jalanan. Mereka sedang menimbang-nimbang paket hemat apa yang hendak dibeli. Dan mereka memutuskan untuk membeli Paket Super Panas. 1 nasi, 1 potong sayap ayam, dan satu gelas kecil minuman cola seharga 7800 rupiah. Harga sebungkus rokok kesukaan gw. Salah seorang bocah mengeluarkan segenggam uang recehan dan ditumpahkannya di depan cash register. Dengan pelan-pelan dihitungnya uang logam itu satu demi satu. Uangnya hanya ada 7300 rupiah!!! Gw menimbang-nimbang untuk membayarkan makan malam itu atau tidak, sementara si bocah sibuk mencari-cari di tas kecil yang disandangnya. Senyum lebar menghiasi wajah ketika ia menemukan uang lima ratusan yang terselip di dalamnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja di dekat counter dan bersiap-siap untuk menikmati makan malam mewah mereka. Sepotong sayap ayam dan sebongkah nasi!

Giliran gw untuk memesan. Gw memesan 2 potong ayam, 1 nasi, 1 sup, 1 perkedel, 1 gelas besar minuman cola, dan 1 puding. Nyam..nyam....enak sekali. Pada saat makanan sudah siap dan gw harus membayarnya, salah seorang bocah tadi kembali lagi ke counter untuk meminta tambahan saus sambal dan tomat. Dia memandang makanan yang gw pesan dengan tatapan yang gw gak bisa artikan.

Tiba-tiba gw merasa perut gw penuh. Gw gak selapar tadi.

"Makan berdua?" tanya gw

Si bocah mengangguk.

Gw ambil sepotong ayam dan nasi yang sedianya akan gw makan dan gw berikan kepada si bocah.

"Terima kasih, om." lirih suara si bocah. Entah malu atau apa. Tapi suara lirih itu seperti tamparan keras dari tangan tak berwujud kepada gw.

Gw cuma menganggukkan kepala gw sambil memaksakan diri untuk tersenyum karena gw takut emosi gw tumpah.

Di meja gw tercenung. Memang gw gak semampu temen-temen gw yang bisa gonta ganti handphone begitu model baru diluncurkan atau berlibur ke tempat-tempat menyenangkan kapanpun dimaui. Tapi gw punya pekerjaan dengan gaji yang memungkinkan gw untuk makan di KFC setiap hari tanpa harus mengumpulkan keping demi keping uang recehan dlaam satu hari. Bahkan gw bisa minta bantuan ke ortu or kakak gw kalau gw kehabisan uang gara-gara gaji habis untuk membiayai kenakalan gw. Gw malu karena gw udah melupakan bahwa masih banyak yang jauh di bawah gw. Masih banyak di luar sana yang harus berjuang bahkan berdarah untuk nominal yang tidak seberapa untuk ukuran kita. Betapa gw sudah menjadi kufur nikmat. Gw malu.

Dalam diam gw mulai makan. Gw nikmati setiap kunyahan makanan. Gw syukuri setiap detik kesempatan yang diberikan untuk dapat hidup berkecukupan.

Terima kasih Tuhan......... 

Posted at 03:44 pm by miko_soeganda
Comments (7)  

Tuesday, March 15, 2005
Bukan Gatotkaca

Gak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sudah menginjak tahun ketiga gw di Jakarta. Entah terdampar atau tenggelam. Yang pasti gw terseret di sebuah pusaran tak berwujud yang gak ada berhentinya. Berputar dan terus berputar dalam irama yang sama. Gw gak bisa melawan pusaran karena gw tersalib di situ. Pahit, asin, manis, asem, tawar, gw telan semua. Biarpun lidah hati gw menjadi kebas dan muak, gw yakin ini akan bikin gw menjadi Gatotkaca. Lelaki bertulang besi otot baja yang mampu mengatasi semua hantaman dan godaan. Gw berharap suatu saat gw akan mampu membebaskan diri dari salib ini dan merasakan pusaran sebagai ayunan yang menyenangkan. Tapi gw salah.  Gw cuma manusia biasa yang punya banyak keterbatasan. Bukan berkilah. Ini sebenar-benarnya nyata bahwa gw adalah manusia, makhluk yang lemah.  

Gw baru ingat bahwa gula rasanya manis jika gw tertelan batrawali atau pil kina. Gw baru sadar bahwa lima ribu rupiah sangat besar artinya pada saat gw tidak punya satu sen pun di kantong. Gw baru sadar bahwa seseorang sangatlah berarti pada saat dia meninggalkan gw. Gw baru ingat kepada Tuhan dan bersimpuh di sajadah hanya pada saat gw dirundung masalah.

Berharap menjadi Gatotkaca yang didapat justru amnesia.  Gw lupa siapa keluarga gw. Gw lupa siapa teman-teman gw. Gw lupa siapa diri gw. Yang terparah, gw lupa kepada Tuhan gw. Tapi Tuhan masih ingat gw. Tuhan nyentil kuping gw dengan lembut. Dan akibatnya gw jatuh terjengkang. Apa jadinya jika Tuhan menampar atau menendang gw? Allahu Akbar!

Gw bukan Gatotkaca


Posted at 03:41 pm by miko_soeganda
Make a comment  

Wednesday, January 26, 2005
Emang Susah Jadi Manusia

Postingan Aal tentang rumput manusia eh...rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri bikin gw inget dengan buku "Keledai Syeikh Juha" yang gw baca semalam. Buku yang bikin gw nyengir or ngakak karena isinya bener-bener bikin kita ngerasa digaplok pake bakiak. Loh? Digaplok pake bakiak koq malah nyengir or ngakak? (Sado Masochist kali yak??!!! ) Emang sih.....kalo digaplok pake bakiak biasa sih.....pasti jontor or bonyok muka kita. Berhubung bakiak-nya dalam bentuk cerita yang ringan dan lucu, kita cuma bisa ngetawain kebodohan-kebodohan yang sering kita bikin tanpa ngerasa sakit hati dan defensif.

Rangkuman ceritanya gini:

Syeikh Juha (orang-orang lebih mengenal dia sebagai Abunawas) adalah seorang yang cerdik pandai. Tergolong miskin meskipun dia sering jadi penasehat kerajaan (freelancer. red.). Syeikh Juha cuma punya seekor keledai. Tapi lama kelamaan dia bete ama si keledai karena menurut dia ini keledai jarang mo nurut perintahnya. Dia berembuk ama istrinya untuk tukar tambah keledai (jaman dulu belom ada HP. Jadi keledai or onta yang bisa ditukar tambah. red.). Dia bilang ke istrinya kalo dia punya negotiation skill yang ok punya. Jadi dia bisa ngejual keledainya dengan harga tinggi dan bisa dapetin keledai baru yang berkualitas tinggi dengan harga lebih ringan (teknologi korea, bo!).

Berangkatlah si Syeikh Juha ke pasar. Selama perjalanan, si Syeikh Juha ngomelin panjang lebar itu keledai.

"Rasain lo! Bentar lagi lo gw jual. Lo bakal dapet majikan yang lebih galak daripada gw."

Nah, singkat kata nih, Syeikh Juha sampe di pasar dan langsung bilang ke tukang keledai kalo dia mo ganti keledai. Syeikh Juha juga ngecap kalo si keledai ini garis darahnya premium (kalo di manusia sih golongan darah biru or bangsawan), penurut, jinak, makannya dikit (emang iya sih makannya dikit, soalnya dapet jatah dari Syeikh Juha juga dikit. Maklum...khan Syeikh Juha orang miskin) dan lain sebagainya. Berhubung hari itu banyak keledai yang dijual, mulai deh si tukang keledai tereak-tereak menarik perhatian pengunjung kalo dia punya stok keledai yang banyak dengan kondisi yang prima. Syeikh Juha ngeliatin aja proses ini n berharap keledainya bisa laku duluan n dia bisa beli salah satu keledai yang udah diincer sejak dia datang. Sejam dua jam, keledai-keledai lain udah laku terjual. Tinggal dua ekor yang tersisa. Keledai milik Syeikh Juha dan keledai idamannya (duh...berasa itu keledai adalah gadis or pemuda ja. Idaman.).

Dasar nasib Syeikh Juha lagi mujur. Keledainya mulai ditawarkan si tukang keledai kepada pengunjung pasar.

"Bapak-bapak...sodara-sodara. Keledai yang ini betul-betul keledai dari ras murni. Lihatlah bulunya yang halus dan mengkilap"

Syeikh Juha melihat keledainya. Eh iya. Ternyata bulunya memang tampak halus dan mengkilap.

"Bapak-bapak juga bisa lihat. Mata keledai ini begitu ramah. Menunjukkan kalau ini keledai penurut dan tidak liar."

Syeikh Juha melihat keledainya lagi. Eh....bener juga. Ternyata mata keledai itu tampak ramah dan bersahabat.

"Lihat juga badannya yang ramping tapi kekar dan kakinya yang mungil ini. Keledai ini sanggup untuk menahan beban yuang berat dan berjalan jauh."

Lagi-lagi Syeikh Juha takjub dengan kebenaran ucapan si penjual keledai. Diapun takjub bahwa dengan kaki-kaki yang mungil itu si keledai mampu membawa dirinya yang tambun ke mana saja tanpa pernah protes. Ada rasa sayang yang muncul ke si keledai atas pengabdiannya selama ini.

Mendengar promosi si penjual keledai, banyak orang yang berminat. Mereka berebut meberikan penawaran ke si tukang keledai.

"100 dinar!" saudagar guci meberikan penawaran yang tinggi

"110 dinar!" saudagar kurma meberikan penawaran yang lebih tinggi lagi

"115 dinar!" tawar saudagar roti tak mau kalah.

Melihat si keledai ditawar dengan harga yang bagus, Syeikh Ali tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki keledai bagusnya itu. Ia pun meberikan penawaran

"120 dinar!" teriak Syeikh Juha

"125 dinar!" teriak saudagar guci yang  tidak ingin keledai idamannya jatuh ke lelaki lain. (huehehehhee apaan sih???)

Syeikh Juha semakin khawatir. Dibukanya dompet dan dia melihat bahwa dia punya uang 200 dinar. Dengan lantang ditawarnya si keledai.

"200 dinar!"

Mendengar penawaran  tinggi dari Syeikh Juha, saudagar-saudagar yang ada jadi jiper dan gak mau nawar lebih tinggi. Akhirnya keledai itu jatuh ke tangan Syeikh Juha. Syeikh Juha merasa senang karena keledainya itu masih tetap jadi miliknya, walaupun sedikit menyesali bahwa kantongnya sekarang kempes. Ditungganginya keledai menuju rumah.

Pada suatu siang yang panas, Syekh Juha dan Ali, anaknya, harus pergi ke kota sebelah. Karena miskin, Syeikh Juha cuma punya satu ekor keledai. Tau dong keledai itu seperti apa? Kebangetan amat kalo gak tau. Karena cuma ada satu keledai, berarti cuma satu orang aja yang bisa menunggangi si keledai itu. Dasar si Ali anak yang yang berbakti. Dia meminta untuk si Bapak yang menunggangi keledai. Seyeikh Juha sih cincai aja. Waktu mereka melintas di salah satu desa, penduduk setempat ramai mengomentari mereka.

"Dasar orang tua egois! Gak tau diri! Badan besar dan kuat seperti itu koq justru enak-enakan menunggang keledai. Anaknya malah disuruh jalan kaki."

Ngedenger komentar kayak gitu, jelas si Syeikh Juha gak enak hati. Dia khan orang yang dianggap bijaksana di kerajaan. Khan gerah kalo digosipin macam seleb. Akhirnya dia turun dari keledai dan meminta Ali untuk menunggangi si keledai. Secara Ali anak yang penurut, dia sih ho-oh aja disuruh bokapnya. Lagian lumayan gak cape lagi jalan kaki. Setelah 30 menit, mereka melintasi sebuah desa lain. Lagi-lagi mereka dikomentari.

"Dasar anak tidak tahu diuntung. Gak Sopan! Gak tahu adat! Tega-teganya dia menunggang keledai sementara bapaknya yang tua kudu jalan kaki."

Sekali lagi Syeikh Juha ngerasa gak enak hati. Dia gak mau dinilai salah ngedidik anak. Akhirnya diputuskan untuk menaiki keledai itu berdua.  Pas mereka lewat di desa ketiga, lagi-lagi penduduk mengomentari dengan pedas.

"Dasar orang-orang yang tidak berperikebinatangan! Mentang-mentang manusia, koq semena-mena ke binatang. Binatang sekecil itu kudu menanggung 2 beban berat."

Anjrit! Syeikh Juha cuma bisa memaki dalam hati. Setelah berunding sejenak dengan Ali, akhirnya diputuskan untuk mereka berdua berjalan kaki dan si keledai cuikup dituntun aja (iyalah! masa mo digendong???).  Nah, pas rombongan kecil ini lewat di desa ke empat, lagi-lagi kuping Syeikh Juha kudu mendengar komentar pedas dari warga setempat.

"Lihat dua orang bodoh itu! mereka punya keledai tapi hanya dituntun sepanjang perjalanan. Di siang hari yang panas pula!"

Gondok hati Syeikh Juha.

Dari sepenggal cerita di atas ada beberapa filosofi yang bisa kita ambil. Manusia gak pernah ada puasnya. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau daripada rumput sendiri. Selalu ngerasa apa yang dimilikinya jauh lebih jelek daripada orang lain. Tapi pada saat kita kehilangan or hampir kehilangan sesuatu yang kita miliki, kita baru sadar kalo sesuatu itu sangat berharga bagi kita. Filosofi lain adalah kita tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Apa yang kita perbuat selalu mengundang komentar. Entah itu komentar positif atau negatif. Seringnya sih yang negatif. Mencoba lari dari penilaian orang lain akan selalu mendapatkan penilaian baru. Sejauh manapun berlari.

Sekarang tinggal kita sendiri aja yang bisa menentukan. Apakah penilaian atau labelling atau judgment dari orang lain ini membuat kita terpuruk dan berusaha mengganti image sesuai dengan penilaian orang lain itu atau tetap berjalan dengan tegak?

Emang susah jadi manusia. 



Posted at 05:06 pm by miko_soeganda
Comments (4)  

Thursday, December 30, 2004
Bicaralah................

Waktu gw screening application letter di meja kerja gw, hp gw bunyi. Private number. Sepertinya Cimot. Tumben telpon siang-siang. Mungkin lagi bete nungguin orang yang janjian untuk meeting.

 

“Sayang, lagi sibuk ya?” suara di seberang sana memulai pembicaraan. Serak. Suara orang baru bangun tidur.

 

“Hei……baru bangun nih? Aku gak terlalu sibuk koq. Gimana event semalam? Eh, koq gak pake telpon rumah sih?” jawaban sekaligus pertanyaan dari gw.

 

“Iya….aku nginap di Shangrilla. Ternyata kita dapat jatah 4 kamar dari panitia. Makanya semalam aku telpon kamu. Aku pikir kamu belum tidur. Tadinya aku mau ajak kamu nginap di sini juga. Jeffry juga ngajak temen-temennya. Bla….bla…bla….bla…” penjelasan panjang lebar yang gak bukan bikin gw ngerti tapi justru ada tanda tanya besar.

 

Gw jadi inget semalam dia telpon gw jam setengah dua belas malam n gw denger si Jeffry teriak…ajak aja Miko…ajak aja….

 

“Udah makan?” gw berusaha menetralisir perasaan gw sendiri.

 

“Belom…ntar aja habis check out.”

 

“Oh….jangan telat makan ya…habis ini langsung pulang khan?”

 

“Aku ada meeting dengan “Brand Sport Apparel terkenal” siang ini. Jadi aku langsung ke sana. Khan dekat dari sini."

 

“Oh…gitu ya…” nada gw ngambang.

 

“Iya..Mmmm….ya udah, kerja lagi gih.”

 

“OK. Dah…”

 

Pembicaraan udah kelar tapi otak kreatif gw langsung connect dan bikin analisa

 

  1. Dia adalah orang yang selalu mempersiapkan segala sesuatu hal dengan matang.
  2. Dia adalah orang yang selalu menjaga penampilan.
  3. EO selalu dapat jatah kamar kalo eventnya di hotel.
  4. Shangrilla dekat banget dengan kost gw.

 

Kesimpulan:

 

Memang gak berniat undang gw malam itu untuk melewatkan semalam bersama-sama

 

Dongkol!

 

Gw bukan kecewa karena gak diajak nginap di Shangrilla. Dua minggu ini kita ketemu, cuma untuk 5 menit saja. Gw sadar masing-masing dari kita punya kesibukan pekerjaan. Gw berusaha untuk realistis karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari gak bisa dibeli di carefour dan dibayar dengan cinta. Gw coba berpikir positif bahwa dia gak mau gw bangun n ribet ini itu hanya untuk nginap di Shangrilla bareng dia.  Apa lagi gw harus kerja dan masuk pagi. Tapi pikiran negative gw bilang kalo sebelum-sebelumnya dia selalu cerita tentang event-event yang lagi dikerjain, dimana, dapet fasilias apa aja, perlu nginap atau tidak, dan lain sebagainya.

 

Gw marah…… gw curiga………


Seharian gw bad mood. Tapi karena gw profesional, gw kudu bisa menekan perasaan gw sendiri supaya kerjaan gw gak terganggu. Yang bikin gw agak terhibur waktu gw dapet kabar kalo hari ini gaji udah masuk ke rekening (teuteup.....kalo urusan dapet duit bisa bikin dunia terasa lebih cerah). Kecerahan ini cuma sekejap karena inget kudu bayar tagihan-tagihan yang menumpuk karena kenakalan konsumtif gw yang gila.

Pulang kerja, gw masih mellow dan salah satu cara untuk ngobatinnya: belanja! (hahahahaha...emak-emak banget gak sih?). Mumpung baru gajian n kudu belanja kebutuhan bulanan. Di Hero gw bingung mo belanja apa. Yang akhirnya gw cuma beli detergent, shampoo, dan setumpuk coklat. Gw heran kenapa nafsu belanja ala ibu-ibu kalap liat barang diskon gak muncul sama sekali. Yo wis, pulang aja.

Sampe di kos, roomy kos gw mau makan ke Menteng n gw mutusin untuk ngikut (padahal gw dah makan 2 potong ayam KFC sebelum belanja). Pas di Menteng gw dapet telpon dari dia.

 

"Lagi di mana sayang?" 


Buset.....suara latarnya kenceng banget . Di mana ya?


"Lagi makan di Menteng."


"Sama siapa?"


"Sama temen-temen kost.  Ali &  Sonya."


"Duh...enaknya. Aku lagi di EX."


"Ngapain di sana? Katanya capek. Koq ngelayap?"

"Iya aku ada meeting ama Cafe Batu Karang Keras. Ya udah deh, met makan ya."


Meeting? Meeting ama gebetan baru kali ya? Pikiran kreatif negatif mulai beraksi and bikin bete gw semakin menjadi. (buat yang mo bilang: "Jangan berpikiran negati karena itu sama aja menyakiti diri sendiri", maaf...skali lagi maaf.....kalimat klise yang gampang diucapin. Gw juga ngerti itu...tapi susah banget ngelakuinnya.)

Selesai makan, temen-temen ngajak untuk ke cafe tapi gw males. Dada gw sesak dan butuh alat bantu lagi (koq jadi addicted ya??). Anehnya kali ini alat bantu ini gak mempan. Mau tidur, gak ngantuk. Mau nerusin nulis novel, ide-nya mandek. Bengong lagi. Lagi bengong, hp gw bunyi dan si Cimot yang telpon. Gw ragu-ragu untuk nerima. Tadinya pengen gw cuekin tapi itu bikin gw berperilaku seperti bocah. Akhirnya gw terima.


"Halo sayang. Lagi di mana?"


"Ya di rumah lah. Emangnya mau di mana? suara gw terdengar nyolot


Sepi sesaat di seberang sana

"Oh...lagi ngapain?"


 

"Lagi ngetik." tawar dan datar...

"Ya udah deh kalo lagi ngetik. Selamat mengetik ya."


"OK."


Tut...tut...tut....pembicaraan terputus. Hati gw semakin gundah. Gw gak tahan  lagi. Gw ambil HP gw dan telpon ke rumah dia.

"Halo." dia memberi salam


"Halo....aku mau bicara sebentar mengenai hal semalam."


"Hal semalam? Maksudnya?"

"Mmmmmmmmm....tentang nginap di Shangrilla. Aku ada banyak pertanyaan besar."
gw berusaha untuk menenangkan hati supaya perkataan gw terkontrol.


"Silahkan. Tanya aja."


Diam. Gw bingung untuk merangkai kata.


"Sayang, keluarkan semua perasaan dan ketidaksukaan kamu. Apa aja" suara di seberang sana begitu lembut dan menenangkan. Gw merasa nyaman.


Muntahlah semua apa yang ada di hati dan pikiran gw. Dan dia mendengarkan semua unek-unek gw tanpa memotong sedikitpun. setelah gw selesai, baru dia bicara dengan perlahan dan tenang


"Sayang, aku kemaren telpon kamu sebenarnya untuk ngajak kamu. Semuanya serba mendadak. 4 kamar itu sebenarnya jatah artis, tapi kamu tau dong, jarang artis yang mau nginap. Jeffry yang tahu hal ini langsung bilang ke aku dan minta untuk aku telpon kamu supaya datang ke Shangrilla. Karena aku gak ada rencana nginap, aku maunya pulang. Apalagi besoknya ada meeting. Terus aku tanya ke Jeffry siapa aja yang mau nginap. Dan Jeffry bilang gak ada. Ya udah, aku bilang ke Jeffry kalo aku kudu pulang dulu ke rumah  untuk ambil semua tetek bengek untuk presentasi dan meeting. Kebetulan Jeffry dan Riska mau makan di Kota, aku nebeng sampe rumah dan siap-siap. Waktu Jeffri jemput, katanya dua orang temennya ada yang mau ikutan nginap. Dia bilang kalau aku tidur sendiri aja di kamar dan minta supaya kamu diajak. Nah aku telpon kamu dan ternyata kamu udah tidur. Aku gak mau kamu bangun trus ribet ini itucuma untuk pindah tidur aja walaupun aku pingin kita nginap bareng dan makan pagi bareng sbelum kamu berangkat kerja. Begitu ceritanya."

 

Cesss.....hati gw tiba-tiba jadi dingin. Pikiran negatif sedikit demi sedikit menghilang.


"Iya. Aku harus percaya pada kamu." suara gw masih bergetar


"Kamu gak harus percaya dengan apa yang aku omongin. Aku cuma berusaha untuk jujur."


"Aku percaya bahwa kamu jujur." hati gw semakin tenang.


Pembicaraan di telepon berlanjut sampai satu jam yang akhirnya diakhiri dengan perasaan hati yang jauh lebih nyaman. Tidurpun jadi lebih nyenyak.Mencoba terbuka kepada diri sendiri adalah hal yang sulit, apalagi terbuka kepada orang lain. Gw semakin mantap bahwa 3 hal mendasar yang harus terpenuhi dalam sebuah hubungan adala: communication, honesty, dan trust


Bicaralah dengan jujur karena kepercayaan adalah hal yang sangat berharga


Posted at 12:50 pm by miko_soeganda
Comments (5)  

Tuesday, December 28, 2004
Blog Is My Cure

Semalam gw emang nangis bombay untuk melepas rasa sesak di dada n mood yang teu puguh tea. Gara-gara pake alat bantu biar mewek semewek-meweknya, (gw pake acara nonton film India yang mellow. Baca: Alat Bantu Nangis) ada yang nyela gw tapi ternyata dirinya juga nonton film itu sampe 5 kali…huh!. Sebel! Gw juga sempet bertanya-tanya kenapa gw butuh pancingan (jet pump…kali….buth dipancing dulu biar airnya terpancur) dulu untuk nangis. Tapi setelah gw selesai nulis, gw akhirnya tau sendiri jawabannya. Gw takut dinilai inferior (padahal gw ngaku ke Aal kalo gw adalah pejantan tangguh) dan lemah.

 

Sekali lagi (gw koq sepertinya menyalahkan pola asuh ortu gw sih? Padahal sih emang iya…:P) gw dididik dalam lingkungan yang over protective tapi dituntut untuk bersikap dewasa. Gw inget banget waktu jaman gw masih SD. Gw pernah curhat ke bonyok, bukannya dapet penguatan makah gw diomelin. Kapok deh curhat ke bonyok. Gw gak punya figure yang bisa gw jadiin pelabuhan (duh…serasa gw ini kapal keruk pasir). Tapi akhirnya situasi ini mulai berubah, Setelah gw terkena masalah yang sangat berat, psikiater gw meminta bonyok untuk lebih hangat kepada gw. Memang sih, lebih baik telat daripada gak samasekali. Tapi ini udah terlalu telat, pribadi gw udah terbentuk dengan kuat untuk jadi orang yang tertutup. Gw jarang banget untuk bisa jujur tentang perasaan gw.

 

Thanks to Rio yang udah ngenalin gw ke situs yang namanya blogdrive ini. Gw bisa nulis apa aja. Semau gw. Gw sempet juga “naik darah” waktu ada yang ngasih kritik kalo isi blog gw warnanya cenderung kelabu, ada yang bilang isinya “maksa”, dan lain sebagainya. Sempet juga sirik ama tulisan Rio yang mengalir sampai jauh…..akhirnya ke laut…….(apaan seh????) dengan gaya penulisan bertutur yang bikin para blog hopper menunggu tulisan terbaru dari si Bapak ini. Terkagum-kagum dengan tulisan kocak Ipe (mestinya bukan kagum yak…tapi ketawa ngakak..kak..kak). Terpesona gaya reportase Aal yang lengkap dengan foto-fotonya. Dan banyak lagi…

 

Tapi setelah gw pikir-pikir lagi, blog ini adalah tempat gw untuk menumpahkan (aer….kali???) apapun yang jadi ganjalan di hati. Gw gak perlu merasa malu dengan apa yang gw tulis karena ini adalah gw sendiri. Gw gak perlu merasa marah kalo ada yang mencela karena semua yang gw tulis adalah fakta. Jadi, sekali lagi, blog adalah tempat gw untuk melampiaskan perasaan gw dan untuk bikin gw lebih terbuka n jujur atas perasaan gw sendiri.

 

Itu yang terpenting


Posted at 12:32 pm by miko_soeganda
Comments (8)  

Alat Bantu Nangis

Jaman sekarang memang semakin kompleks. Segala sesuatu butuh alat bantu. Ada alat bantu dengar untuk yang pendengarannya terganggu. Ada alat bantu untuk pake sepatu. Ada alat bantu seks (Apa? Enak aja! Gw gak butuh alat ini! Tepatnya belum butuh kali ye…..hihihihi). Dan yang lebih aneh lagi alat bantu untuk nangis (bingung khan?).

 

Gw termasuk orang yang butuh alat bantu terakhir ini (Bukan kedua terakhir loh…Ngeyel khan gak dosa). Gw kalo lagi butek n terlalu banyak tekanan suka sesak dada. Alat bantunya biasanya nonton film sedih yang bisa bikin gw nangis bombay ala acting Ayu Ashari di sinetron.

 

Seperti yang pernah gw tulis sebelumnya, gw cenderung untuk menyimpan sendiri apa yang gw rasakan (tapi sering juga show off ding…maklum…. MPO…hehehehe). Beginilah produk over protective tapi dituntut untuk bisa dewasa. Jadinya gak tau mesti gimana menyalurkan perasaan.

 

Awalnya sih cuma dengerin lagu-lagu mellow dah bikin gw meleleh. Apalagi lagunya Celine Dion yang "My Heart Will Go On" (aghhh!!! Shut up!!! Don’t laugh at me!!) bikin gw teringat adegan Rose berusaha ngebangunin Jack yang udah mati membeku. Duh…

 

Tapi lama-lama dengerin lagu gak mempan juga. Akhirnya waktu vcd mulai booming, gw mulai koleksi film. Salah satu film favorite gw (Awas lo! Jangan ketawa!)…..jeng…jeng….. LION KING . Busyet…jangan kenceng-kenceng dong ketawanya! Bagian yang bikin gw nangis adalah waktu Mufassa mati n Simba berusaha ngebangunin bokapnya n akhirnya dia melingkar di bawah lengan Mufassa. Adegan kematian lain yang bisa bikin gw nangis itu :MOULIN ROUGE. Adegan Satine yang sekarat n mati di pelukan Christian jadi favorite gw untuk ngebantuin gw nangis  kalo  lagi stress. Ini waktu gw lagi ambil master di UGM.

 

Sekarang adegan Satine sekarat udah basi. Gw punya film andalan yang gw jamin bikin elo-elo pade nangis bombay. Judulnya KAL HO NAA HO (Please deh….selera orang khan beda-beda). Akting yang ciamik dari Sahrukh Khan n Preity Zhinta gak cuma bikin film ini jadi lebih asik ditonton (Selain pemain pendukungnya juga cakep…hehehehehe. Tau dong, bintang India jarang banget yang jelek), tapi juga bikin perasaan penonton teraduk aduk seperti adonan kue. Resensi lengkap, tunggu aja yah.

 

Ngomongin alat bantu yang satu ini bikin gw berpikir ulang. Seperti yang baru aja terjadi sebelum gw bikin tulisan ini. Gw ngerasa dada gw sesak. Hari ini gw butek karena beban kerjaan yang segambreng tapi gak bisa nutupin target yang berlipat untuk tahun depan. Udah gitu si Cimot sibuk banget ama kerjaannya. Tekanan keluarga supaya gw cepet-cepet nikah dan segambreng masalah lain

 

Gak punya teman untuk curhat or berbagi? Bohong banget. Segitu tertutupnya kah gw? Atau cuma karena gw gak mau terlihat lemah di mata orang lain? Gak juga, buktinya gw tulis ini di blog, yang notabene dibaca ama banyak orang (heh…siapa yang mo baca tulisan cetek gini? Emangnya gw Rio or Ipe si master Blog).

 

Sumpah!! Gw gak ngerti!!! Koq gw bisa seperti jangkrik yang kudu dikilik-kilik dulu supaya mo berantem. Gw jadi merasa seperti lelaki gak pede yang kudu minum Viagra sebelum bertarung di ranjang?

 

Salahkah gw? Anehkah gw?

 


Posted at 08:37 am by miko_soeganda
Comments (4)  

Wednesday, December 22, 2004
Wishing You Were Somehow Here Again

Buat seseorang yang pernah dan selalu ada di hati gw

You were once my one companion; you were all that mattered
You were once a friend and father; then my world was shattered
Wishing you were somehow here again; wishing you were somehow near
Sometimes it seemed if I just dreamed, somehow you would be here
Wishing I could hear your voice again; knowing that I never would
Dreaming of you won't help me to do all that you dreamed I could

Passing bells and sculpted angels: cold and monumental
Seem, for you, the wrong companions; you were warm and gentle

Too many years fighting back tears; why can't the past just die
Wishing you were somehow here again; knowing we must say goodbye
Try to forgive; teach me to live
Give me the strength to try
No more memories; no more silent tears
No more gazing across the wasted years
Help me say goodbye


Posted at 03:23 pm by miko_soeganda
Make a comment  

Next Page