Hubungan gw dengan Cimot sudah berjalan hampir satu tahun. Dalam sebuah hubungan apapun, tidak pernah ada yang selalu berjalan dengan mulus. Ada kalanya terjadi pergesekan dan benturan. Namun semua itu bisa dikomunikasikan dan diselesaikan dengan baik. Pada awal gw ketemu dan jadian dengan Cimot, banyak sekali benturan yang terjadi. Jadwal kerja yang sangat fleksibel dan padat, membuat kita sulit untuk bertemu. Pernah disiasati dengan dia datang ke kost gw sesudah meeting atau event yang harus Cimot ikuti atau gw nemenin dia pada saat ada event. Konsekuensinya adalah jadwal tidur gw mundur ke jam satu pagi karena dia datang ke kost jam sebelasan. Sekedar ngobrol sambil pelukan atau kalau sedang mood yang baik, kita bercinta.
Seiring waktu berjalan, Cimot mulai jarang mampir lagi ke tempat gw. Gw jarang diajak ke event-event yang dia kerjakan. Gw gak bisa main ke rumah dia lagi dengan berbagai macam alasan yang gw rasa bisa diterima akal sehat. Gw bersabar. Gw menunggu. Gw berharap situasi akan berubah menjadi seperti pada awal kita menjalin hubungan. Dan sejak awal menjalin hubungan, kita sepakat untuk menjalankan 3 hal mendasar: komunikasi, kejujuran, dan kepercayaan. Biarpun kita jarang bertemu, komunikasi selalu kita jaga. Entah gw yang telpon dia atau dia yang telpon gw. Kacamata kuda pun gw pakai dengan erat.
Lama kelamaan gw mulai terbiasa dengan kesendirian gw dengan status in relationship with someone. Seperti layaknya hubungan asmara orang dewasa, sex memegang peranan penting juga. Pada awalnya cukup baik dan ketika Cimot menjadi sangat sibuk dengan agenda meeting dan event-nya, rasanya keterlaluan kalau gw menuntut untuk make love setiap hasrat itu muncul. Gw akhirnya terbiasa kembali untuk hidup berselibat. Pada suatu saat gw harus pulang berkunjung ke rumah ortu. Malamnya gw nginap di rumah Cimot karena kebetulan gak ada siapa-siapa di sana. Ortu dan adiknya sedang pergi ke luar kota. Kebetulan pula, hasrat itu sedang muncul dengan hebatnya. Secara gw sudah puasa untuk sekian bulan. Pada saat gw akan mencium dia, dia menolak dengan alasan nafasku bau rokok. Gw terima alasan dia. Gw menyikat gigi dan lidah gw. Keintiman itu akhirnya terjadi. Tapi Cimot sepertinya setengah hati. Begini salah. Begitu salah. Sialnya, lehernya terkena gigi gw secara gak sengaja. Cimot membentak gw. Gw yang sejak awal merasa dia setengah hati untuk make love langsung meledak marah.
Pertengkaran ini berakhir dengan kesepakatan untuk open relationship, dalam artian gw boleh have sex (not make love) dengan yang lainnya. Dan gw gak boleh marah kalau Cimot pun have sex dengan orang lain sebagai konsekuensinya. Walaupun dia meyakinkan gw bahwa dia gak akan melakukan itu, gw nggak tau kudu ngomong apa. Ini sebuah kompromi yang sebenarnya menggiurkan bagi laki-laki. Mana ada kucing menolak daging (kecuali dia kucing vegetarian!). Tapi gw merasa sedih. Gw merasa jarak di antara kita mulai semakin lebar. Tapi karena gw tidak ingin kehilangan Cimot dan juga karena gw sudah memilih dia sebagai belahan jiwa gw, gw iyakan saja kompromi ini Orang mungkin menilai apa yang ditawarkan Cimot adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Dan orang juga akan menilai gw sebagai laki-laki egois karena menerima kompromi itu, bukannya menahan hasrat. TERSERAH.
Sesuai kesepakatan itu, hubungan antara gw dengan Cimot kembali berjalan seperti biasa. Cimot sibuk dengan setumpuk kegiatannya dan gw menyibukkan diri dengan pekerjaan gw. Tidak ada lagi keintiman, kecuali ciuman sekilas dan ringan. Pertemuan pun semakin jarang. Namun dari komunikasi yang ada, gw teryakinkan bahwa dia sayang dan cinta gw. Saling menguatkan dan memberikan nasihat. Segala hal yang tampaknya terjadi pada pasangan biasa yang tidak mengalami masalah berat.
Minggu kemaren, kesabaran gw mulai hilang ketika dia memutuskan untuk pergi ke undangan pernikahan salah seorang bintang film Arisan!. Padahal kita baru bertemu untuk 2 jam dengan diselingi pekerjaan dia dan obrolan dengan teman-temannya. Gw capek untuk berharap dan menunggu adanya perubahan. Gw gak mau mati tenggelam dalam kesepian gw. Malam itu kita bertengkar lagi. Cimot menangis di pangkuan gw, ketika dia mengakui bahwa dia merasa bersalah sudah menelantarkan gw. Dia rela untuk diputuskan karena dia tidak bisa memberikan apa yang terbaik buat gw. Dia juga bilang bahwa gw adalah rekor terlama-nya dalam menjalin hubungan. Dia sangat menghargai kesabaran gw. Cimot gak mau hubungan ini berakhir dengan saling menyakiti. Tapi dia pun tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tidak berani menjanjikan adanya perubahan. Tidak berani menjanjikan untuk memberikan waktu yang cukup buat gw. Cimot bahkan menyatakan, jika gw harus turun dari kereta yang sekarang dan pindah ke kereta lain yang lebih nyaman, dia harus berlapang dada untuk menerimanya.
Sekali lagi, karena gw memilih Cimot sebagai belahan jiwa gw maka gw harus fight untuk mempertahankannya. Gw kudu lebih menaikkan ambang kesabaran gw. Dengan segala yang Cimot ucapkan, gw kembali teryakinkan bahwa dia sangat berharga dan harus menjaganya.
Kembali lagi gw pasang kacamata kuda.