Postingan Aal tentang rumput manusia eh...rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri bikin gw inget dengan buku "Keledai Syeikh Juha" yang gw baca semalam. Buku yang bikin gw nyengir or ngakak karena isinya bener-bener bikin kita ngerasa digaplok pake bakiak. Loh? Digaplok pake bakiak koq malah nyengir or ngakak? (Sado Masochist kali yak??!!! ) Emang sih.....kalo digaplok pake bakiak biasa sih.....pasti jontor or bonyok muka kita. Berhubung bakiak-nya dalam bentuk cerita yang ringan dan lucu, kita cuma bisa ngetawain kebodohan-kebodohan yang sering kita bikin tanpa ngerasa sakit hati dan defensif.
Syeikh Juha (orang-orang lebih mengenal dia sebagai Abunawas) adalah seorang yang cerdik pandai. Tergolong miskin meskipun dia sering jadi penasehat kerajaan (freelancer. red.). Syeikh Juha cuma punya seekor keledai. Tapi lama kelamaan dia bete ama si keledai karena menurut dia ini keledai jarang mo nurut perintahnya. Dia berembuk ama istrinya untuk tukar tambah keledai (jaman dulu belom ada HP. Jadi keledai or onta yang bisa ditukar tambah. red.). Dia bilang ke istrinya kalo dia punya negotiation skill yang ok punya. Jadi dia bisa ngejual keledainya dengan harga tinggi dan bisa dapetin keledai baru yang berkualitas tinggi dengan harga lebih ringan (teknologi korea, bo!).
Berangkatlah si Syeikh Juha ke pasar. Selama perjalanan, si Syeikh Juha ngomelin panjang lebar itu keledai.
"Rasain lo! Bentar lagi lo gw jual. Lo bakal dapet majikan yang lebih galak daripada gw."
Nah, singkat kata nih, Syeikh Juha sampe di pasar dan langsung bilang ke tukang keledai kalo dia mo ganti keledai. Syeikh Juha juga ngecap kalo si keledai ini garis darahnya premium (kalo di manusia sih golongan darah biru or bangsawan), penurut, jinak, makannya dikit (emang iya sih makannya dikit, soalnya dapet jatah dari Syeikh Juha juga dikit. Maklum...khan Syeikh Juha orang miskin) dan lain sebagainya. Berhubung hari itu banyak keledai yang dijual, mulai deh si tukang keledai tereak-tereak menarik perhatian pengunjung kalo dia punya stok keledai yang banyak dengan kondisi yang prima. Syeikh Juha ngeliatin aja proses ini n berharap keledainya bisa laku duluan n dia bisa beli salah satu keledai yang udah diincer sejak dia datang. Sejam dua jam, keledai-keledai lain udah laku terjual. Tinggal dua ekor yang tersisa. Keledai milik Syeikh Juha dan keledai idamannya (duh...berasa itu keledai adalah gadis or pemuda ja. Idaman.).
Dasar nasib Syeikh Juha lagi mujur. Keledainya mulai ditawarkan si tukang keledai kepada pengunjung pasar.
"Bapak-bapak...sodara-sodara. Keledai yang ini betul-betul keledai dari ras murni. Lihatlah bulunya yang halus dan mengkilap"
Syeikh Juha melihat keledainya. Eh iya. Ternyata bulunya memang tampak halus dan mengkilap.
"Bapak-bapak juga bisa lihat. Mata keledai ini begitu ramah. Menunjukkan kalau ini keledai penurut dan tidak liar."
Syeikh Juha melihat keledainya lagi. Eh....bener juga. Ternyata mata keledai itu tampak ramah dan bersahabat.
"Lihat juga badannya yang ramping tapi kekar dan kakinya yang mungil ini. Keledai ini sanggup untuk menahan beban yuang berat dan berjalan jauh."
Lagi-lagi Syeikh Juha takjub dengan kebenaran ucapan si penjual keledai. Diapun takjub bahwa dengan kaki-kaki yang mungil itu si keledai mampu membawa dirinya yang tambun ke mana saja tanpa pernah protes. Ada rasa sayang yang muncul ke si keledai atas pengabdiannya selama ini.
Mendengar promosi si penjual keledai, banyak orang yang berminat. Mereka berebut meberikan penawaran ke si tukang keledai.
"100 dinar!" saudagar guci meberikan penawaran yang tinggi
"110 dinar!" saudagar kurma meberikan penawaran yang lebih tinggi lagi
"115 dinar!" tawar saudagar roti tak mau kalah.
Melihat si keledai ditawar dengan harga yang bagus, Syeikh Ali tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki keledai bagusnya itu. Ia pun meberikan penawaran
"120 dinar!" teriak Syeikh Juha
"125 dinar!" teriak saudagar guci yang tidak ingin keledai idamannya jatuh ke lelaki lain. (huehehehhee apaan sih???)
Syeikh Juha semakin khawatir. Dibukanya dompet dan dia melihat bahwa dia punya uang 200 dinar. Dengan lantang ditawarnya si keledai.
"200 dinar!"
Mendengar penawaran tinggi dari Syeikh Juha, saudagar-saudagar yang ada jadi jiper dan gak mau nawar lebih tinggi. Akhirnya keledai itu jatuh ke tangan Syeikh Juha. Syeikh Juha merasa senang karena keledainya itu masih tetap jadi miliknya, walaupun sedikit menyesali bahwa kantongnya sekarang kempes. Ditungganginya keledai menuju rumah.
Pada suatu siang yang panas, Syekh Juha dan Ali, anaknya, harus pergi ke kota sebelah. Karena miskin, Syeikh Juha cuma punya satu ekor keledai. Tau dong keledai itu seperti apa? Kebangetan amat kalo gak tau. Karena cuma ada satu keledai, berarti cuma satu orang aja yang bisa menunggangi si keledai itu. Dasar si Ali anak yang yang berbakti. Dia meminta untuk si Bapak yang menunggangi keledai. Seyeikh Juha sih cincai aja. Waktu mereka melintas di salah satu desa, penduduk setempat ramai mengomentari mereka.
"Dasar orang tua egois! Gak tau diri! Badan besar dan kuat seperti itu koq justru enak-enakan menunggang keledai. Anaknya malah disuruh jalan kaki."
Ngedenger komentar kayak gitu, jelas si Syeikh Juha gak enak hati. Dia khan orang yang dianggap bijaksana di kerajaan. Khan gerah kalo digosipin macam seleb. Akhirnya dia turun dari keledai dan meminta Ali untuk menunggangi si keledai. Secara Ali anak yang penurut, dia sih ho-oh aja disuruh bokapnya. Lagian lumayan gak cape lagi jalan kaki. Setelah 30 menit, mereka melintasi sebuah desa lain. Lagi-lagi mereka dikomentari.
"Dasar anak tidak tahu diuntung. Gak Sopan! Gak tahu adat! Tega-teganya dia menunggang keledai sementara bapaknya yang tua kudu jalan kaki."
Sekali lagi Syeikh Juha ngerasa gak enak hati. Dia gak mau dinilai salah ngedidik anak. Akhirnya diputuskan untuk menaiki keledai itu berdua. Pas mereka lewat di desa ketiga, lagi-lagi penduduk mengomentari dengan pedas.
"Dasar orang-orang yang tidak berperikebinatangan! Mentang-mentang manusia, koq semena-mena ke binatang. Binatang sekecil itu kudu menanggung 2 beban berat."
Anjrit! Syeikh Juha cuma bisa memaki dalam hati. Setelah berunding sejenak dengan Ali, akhirnya diputuskan untuk mereka berdua berjalan kaki dan si keledai cuikup dituntun aja (iyalah! masa mo digendong???). Nah, pas rombongan kecil ini lewat di desa ke empat, lagi-lagi kuping Syeikh Juha kudu mendengar komentar pedas dari warga setempat.
"Lihat dua orang bodoh itu! mereka punya keledai tapi hanya dituntun sepanjang perjalanan. Di siang hari yang panas pula!"
Gondok hati Syeikh Juha.
Dari sepenggal cerita di atas ada beberapa filosofi yang bisa kita ambil. Manusia gak pernah ada puasnya. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau daripada rumput sendiri. Selalu ngerasa apa yang dimilikinya jauh lebih jelek daripada orang lain. Tapi pada saat kita kehilangan or hampir kehilangan sesuatu yang kita miliki, kita baru sadar kalo sesuatu itu sangat berharga bagi kita. Filosofi lain adalah kita tidak akan pernah lepas dari penilaian orang lain. Apa yang kita perbuat selalu mengundang komentar. Entah itu komentar positif atau negatif. Seringnya sih yang negatif. Mencoba lari dari penilaian orang lain akan selalu mendapatkan penilaian baru. Sejauh manapun berlari.
Sekarang tinggal kita sendiri aja yang bisa menentukan. Apakah penilaian atau labelling atau judgment dari orang lain ini membuat kita terpuruk dan berusaha mengganti image sesuai dengan penilaian orang lain itu atau tetap berjalan dengan tegak?
Emang susah jadi manusia.